BUSTAN AL-SALATIN PDF

Teks tersebut lahir dalam wawasan pengarang memberi panduan dan nasihat tentang adab pemerintahan kepada raja-raja Aceh berteraskan kerangka keislaman. Pada tahap yang lebih sakral, teks nukilan Nuruddin al-Raniri ini turut memancarkan cahaya mutiara kesufian kepada raja-raja, suatu dimensi pemikiran yang selaras dengan kebangunan Aceh sebagai Darussalam pada abad ke yang lalu. Pengarang Bustan al-Salatin dengan itu berkecenderungan untuk memberi panduan dan nasihat kepada para pemerintah tentang aspek-aspek kerohanian dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, bukan melalui doktrin, falsafah atau susun-atur ajaran Sufi, sebaliknya tercerna dalam nada amalan kerohanian yang praktikal sifatnya. Kupasan terhadap persoalan-persoalan di atas akan menjadi inti pati tulisan ini sehingga akhirnya akan menjurus ke arah kemanfaatan segala cahaya mutiara kesufian tersebut kepada para pemerintah kerajaan Melayu keseluruhannya. Nuruddin al-Raniri merupakan seorang ulama, pengarang, ahli Sufi dan ahli sejarah yang berasal dari Rander, Gujarat, India.

Author:Dorn Dabei
Country:Denmark
Language:English (Spanish)
Genre:Sex
Published (Last):17 April 2008
Pages:463
PDF File Size:5.9 Mb
ePub File Size:17.28 Mb
ISBN:281-9-80682-323-2
Downloads:21881
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Tetilar



Nuruddin al-Raniri adalah seorang ulama, sejarawan, sastrawan dan ahli tasawuf terkemuka abad ke M yang pernah hidup di Aceh Darussalam. Namanya juga masyhur ke seluruh negeri sebagai ulama madzab Syafii, penulis kitab fiqih pertama yang komprehensif dalam bahasa Melayu. Salah satu cabang ilmu fiqih yang sangat dikuasai olehnya bukan hanya fiqih ibadah, tetapi juga fiqih duali yang berkaitan dengan seluk-beluk pemerintahan, undang-undang negeri, dan adab secara umum.

Karyanya yang terkenal ialah Bustan al-Salatin Taman Raja-raja. Karena begitu tebal, kitab ini tidak pernah ditransilterasikan seluruhnya ke dalam huruf Latin, kecuali bagian-bagiannya yang dianggap penting dan menarik untuk ditelaah, baik dalam rangka sumber sejarah maupun etika politik dan kenegaraan. Memang, kitab ini lebih dikenal sebagai karya ketatanegaraan. Atau lebih tepat disebut sebagai karya adab, karena yang dibahas adalah masalah yang berhubungan adab dalam pengertian luas bukan semata-mata adab pemerintahan atau kenegaraan.

Karena mengandung unsur sejarah dalam banyak bagiannya, tidak mengherankan jika sejumlah sarjana seperti Winstedt dan Hussein Djajadiningrat menjadikan Bustan sebagai sumber penulisan sejarah Aceh. Tujuannya ambisius, karena karangan ini ditulis dengan maksud sebagai monografi lengkap yang bersifat keagamaan dan sekaligus sejarah Lombard Dan dinamai faqir kitab ini Bustan al-Salatin, ertinya, kebun segala raja-raja, dan menyatakan permulaan segala kejadian dan kesudahannya.

Dan banyak lagi. Naskah Bustan yang agak lengkap, dua di antaranya dimiliki oleh Royal Asiatic Society London, satu daripadanya adalah koleksi Raffles seperti telah disebutkan. Naskah ini pernah diterbitkan oleh Wilkinson dua tahap. Yang pertama terbit pada , yang kedua pada , sedang penerbitnya Methodis Publishing House Singapura.

Bagian yang memaparkan keindahan taman dan gegunungan, yang akan dibahas sekarang, transkripsinya dalam huruf Latin diterbitkan oleh R. Banyak sarjana mengatakan bahwa Bustan ditulis dengan harapan dapat melengkapi kitab Taj al-Salatin karangan Bukhari al-Jauhari yang dianggapnya belum lengkap.

Kitab ini merupakan gabungan sastra kitab, kenegaraan, eskatologi dan sejarah. Corak penulisan sejarah dalam kitab ini realistis, tidak menggunakan unsur mitos dan legenda. Pengaruh tasawuf sangat besar dalam penulisan kitab ini. Dalam bab III misalnya tercantum kisah kejadian Nur Muhammad, yang secara simbolik digambarkan sebagai mutiara berkilauan yang bersujud di hadapan Tuhan selama ribuan tahun. Bustan terdiri dari tujuh bab besar.

Bab I menyatakan kejadian langit dan bumi, terdiri dari sepuluh fasal. Diuraikan di dalamnya bahwa sifat kejadian itu ada empat perkara ialah wadi, wahi, mani dan manikam. Keempatnya merupakan asal-usul air, angin, api dan tanah.

Yang dinamakan tubuh jasmani ialah yang lengkap mengandung empat hal, yaitu kulit, daging, urat dan tulang. Setelah itu baru bergerak dan geraknya disebabkan adanya nafsu. Nafsu dibimbing oleh akal, budi, cita dan nyawa. Fasal 1 menceritakan nabi-nabi dari Adam hingga Muhammad s. N Nyawa Adam terbit dari Nur Muhammad. Karena hakikat dari Adam ialah Nur Muhammad.

Fasal menceritakan raja-raja Persia, Byzantium, Mesir dan Arab. Fasal 11 menceritakan raja-raja Melaka dan Pahang. Fasal 13 menceritakan raja-raja Aceh dari Ali Mughayat Syah hingga Iskandar Tsani, ulama-ulama Aceh yang terkenal, Taman Ghairah dan Gegunungan yang terdapat dalam kompleks istana Aceh sebagai simbol kemegahan dari kesultanan Aceh, dan upacara pula batee penanaman batu nisan Iskandar Tsani oleh penggantinya, permaisuri almarhum Iskandar Tsani, yaitu Sultanah Taj al-Alam.

Bab III menceritakan raja-raja yang adil dan wazir-wazir yang cerdik cendekia, terdiri dari 6 fasal. Bab IV menceritakan raja-raja yang gemar melakukan zuhud dan wali-wali sufi yang saleh. Bab ini terdiri dari 2 fasal. Fasal pertama antara lain menceritakan tokoh sufi yang masyhur, Sultan Ibrahim Adham. Bab V menceritakan raja-raja yang zalim dan wazir-wazir yang keji. Bab VI menceritakan orang-orang yang dermawan dan orang-orang besar pemberani dalam membela kebenaran. Juga diceritakan perjuangan tokoh-tokoh dalam melawan raja yang keji lagi durhaka.

Bab VII menceritakan tentang akal, ilmu firasat, ilmu kedokteran dan segala sifat perempuan. Dalam bab-babnya Nuruddin kerap menyisipkan syair dan kisah-kisah ajaib.

Judul yang dipilih Nuruddin al-Raniri bagi karya adabnya sangat indah dan simbolik, sebab walaupun dalam Bab II fasal 13 terdapat uraian panjang lebar mengenai taman ghairah yang terdapat di kompleks istana Aceh, akan tetapi uraian itu hanya bagian kecil dari keseluruhan perkara yang ingin dipaparkan. Pemberian judul bustan yang artinya taman, bagi sebuah karangan sastra bukanlah hal baru dalam kesusastraan Islam, khususnya di Persia.

Taman Ghairah dan Gegunungan Uraian tentang taman ghairah dan gegunungan memang merupakan komponen kecil dari bagan keseluruhan kitab ini. Ia terdapat dalam Bab II fasal 13, yang menguraikan tiga persoalan: pertama, sejarah ringkas kesultanan Aceh Darussalam sejak didirikan pada tahun oleh Ali Mughayat Syah hingga bertahtanya Sultan Iskandar Tsani, yang menggantikan mertuanya Sultan Iskandar Muda sebagai pemegang tampuk pemerintahan; kedua, uraian tentang Taman Ghairah dan Gegunungan yang terdapat di kompleks istana Aceh; dan ketiga, upacara Pula Batee, yaitu upacara penanaman batu nisan pada makam Sultan Iskandar Tsani oleh mantan permaisurinya Sultanah Tajul Alam Syafiatuddin, yang sekaligus menjadi penggantinya sebagai pemegang tampuk pemerintahan.

Tetapi ada banyak alasan apabila karangan ini menumpukan perhatian pada bagian ini. Pada pembacaan pertama memang jelas bahwa uraian tersebut dimaksud sebagai ungkapan pujian kepada Sultan Iskandar Tsani yang menjadi pelindung Nuruddin, dan juga sebagai pujian terhadap kebesaran Aceh sebagai kerajaan Islam yang makmur dan megah pada zamannya disebabkan kecerdasan dan kebajikan raja-rajanya yang memerintah.

Namun jika kita telusuri mendalam, paling tidak ada dua hal yang layak diperhatikan. Pertama, dalam tradisi Islam taman memiliki makna kultural dan keagamaan tersendiri, karenanya memiliki fungsi dan kedudukan tersendiri dalam tradisi kerajaan Islam.

Kedua, sebagai seorang sufi pengarang kitab ini tentu bertolak dari sebuah estetika yang hidup dalam tradisi intelektual sufi ketika menulis karyanya. Dalam estetika sufi, karya seni atau sastra dipandang sebagai representasi simbolik dari gagasan dan pengalaman kerohanian, sehingga yang ditekankan ialah keindahan ruhani yang mengacu pada kebajikan, kearifan, dan kesalehan. Gambaran tentang taman ghairah dan gegunungan dengan demikian sarat pula dengan makna simbolik, bahkan punya kaitan dengan konsep kekuasaan dan politik.

Maka ditanaminya pelbagai bunga-bungaan dan aneka buah-buahan. Dan pada sama tengah itu sebuah gunungan, di atasnya menara tempat semayam, bergelar Gegunungan Menara Pertama, tiangnya daripada tembaga dan atapnya daripada perak seperti sisik rumbia, puncaknya suasa.

Gegunungan yang disebutkan itu diperkirakan juga telah ada sejak abad ke M dan diperbaiki sehingga menjadi bangunan yang indah pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda M Dalam tradisi Islam, pembangunan taman dalam sebuah istana dikaitkan untuk menciptakan suasana seperti di dalam sorga. Taman-taman yang terdapat dalam istana kerajaan Persia, Mughal, Arab, Andalusia dan lain-lain merupakan lambang kebesaran kerajaan-kerajaan bersangkutan.

Dalam tradisi Islam pula, istana sebagai pusat sebuah kerajaan harus merupakan dunia yang lengkap dan sempurna, yang diambangkan dengan adanya taman yang luas, indah dan lengkap isinya. Ada pun fungsinya bukan sekadar untuk tempat bersenang-senang, seperti bercengkrama dengan permaisuri atau putri-putri istana bermain-main. Taman dalam istana kerajaan Islam punya beberapa fungsi khusus seperti tempat sultan menerima pelajaran tasawuf dari guru keruhaniannya dan juga tempat sultan menjamu tam agung dari kerajaan lain.

Sedangkan Gegunungan atau Gunungan, diperkirakan telah ada pada awal abad ke sejak didirikannya kerajaan Aceh Darussalam oleh Ali Mughayat Syah. Bahkan ada sarjana memperkirakan bangunan itu sebenarnya merupakan peninggalan kerajaan Lamuri, kerajaan Hindu yang ditaklukkan oleh Samudra Pasai pada abad ke M dan pada abad ke tapak istananya dijadikan pusat pemerintahan kesultanan Aceh.

Taman Ghairah Gagasan membangun taman yang indah dalam kompleks istana sangat umum di seluruh dunia. Di dunia Islam dikaitkan dengan upaya menciptakan replika sorga atau taman Firdaus.

Tak terkira banyaknya taman dibangun di dunia Islam di dalam dan di luar istana, termasuk di depan masjid, berfungsi ganda bukan saja untuk memperindah lingkungan tetapi juga memiliki makna simbolik tertentu. Di sini istana, sebagai pusat sebuah kerajaan, haruslah merupakan sebuah dunia yang lengkap dan sempurna. Sempurnanya sebuah istana dilambangkan dengan adanya taman yang luas, indah dan sempurna, dengan berbagai kemudahan yang memmbuat pengunjung senang.

Kemerosotan dan kemunduran sebuah negeri ditandai dengan merosotnya mutu dan keluasan tamannya. Mengenai Taman Ghairah di istana Aceh ada beberapa pendapat. Ada yang berpendapat taman ini diilhami oleh taman-taman sultan Mughal India. Sedangkan gunongannya diilhami oleh taman gantung Babylon. Konsep taman Mughal sepenuhnya diterapkan di istana Aceh.

Ini kelihatan misalnya dengan adanya sungai yang airnya jernih yang diberi nama Darul Isqi, air jeram yang memancur dari mulut naga dan danau. Kita juga bisa membandingkan fungsi Taman Ghairah dengan taman raja-raja Persia. Jadi ia bukan sekadar berfungsi sebagai tempat untuk bertamasya dan menghirup udara segar. Kadang taman juga berfungsi sebagai tempat sultan mengadakan pertemuan rahasia dengan guru spiritualnya, dan menjamu tamu dari kerajaan lain.

Pengalaman saya di Shiraz, Iran, beberapa waktu yang lalu ketika mengikuti Kongres Penyair Iran dan Dunia penting dicatat di sini. Malam terakhir acara di Shiraz, para penyair dijamu di sebuah taman dalam kompleks yang dahulunya merupakan gedung tamu negara.

Di dalam kompleks rumah negara ini dimaamkan filosof masyhur Mulla Sadra dan pelukis terkenal Lutfullah Souratgar. Menurut sorang panitia biasa tamu negara dijamu makan siang atau malam di taman. Fungsi taman yang lain ialah sebagai tempat tafakur atau meditasi, tempat mengadakan perbincangan berbagai hal seperti persoalan agama, politik, negara dan masyarakat.

Di taman pula sultan mengadakan pesta dengan jumlah tamu terbatas. Tetapi ada perbedaan antara konsep taman Persia dan India Mughal. Konsep taman Mughal cenderung sinkretik, menggabungkan berbagai unsur kebudayaan seperti juga tampak pada Taman Ghairah Aceh, serta taman sari di kraton Cirebon, Yogya dan Sumenep. Begitu puila apa yang terdapat di dalamnya, serta fungsinya menunjukkan pengaruh berbagai budaya. Ada suatu hal yang menarik juga.

Dalam karangan Cik Pante Kulu diceritakan bahwa orang yang mati syahid akan masuk sorga yang sungainya indah, air sungainya berkilauan disebabkan banyaknya batu permata di dasar sungai. Rasa airnya pun lezat dan manis, dijaga oleh bidadari-bidadari yang cantik, yang mandi, berenang dan bergurau di sungai iitu sambil bernyanyi dan bermain musik. Air yang jernih dapat menampung dan memantulkan cahaya matahari dengan sempurna.

Air juga berfungsi sebagai cermin atau kaca yang memantulkan cahaya dari langit, dari Alam Atas. Bandingkan dengan lukisan taman dalam teks-teks Hindu, yang sering menggambarkan bahwa taman-taman di istana dan kolam-kolam air di lereng gunung merupakan tempat dewa-dewa dan para bidadari turun dari langit. Mereka senang turun pada musim bunga dan di kolam air ketika teratai sedang berbunga. Pada musim bunga inilah Kama sang dewa Cinta bertemu dengan Ratih sang dewi cinta.

Karena itu para penyair sering mencari ilham di tempat-tempat seperti itu pada musim bunga. Air dan bunga terataiu adalah simbol yang mengandung arti seperti pembaruan, penyegaran kembali,, dan pencerahan.

Kolam yang airnya jernih juga berfungsi sebagai tempat penyucian diri. Dalam tradisi Islam seorang tamu negara akan selalu dibawa ke taman istana dan kemudian diharuskan mandi di taman sari untuk menyucikan diri. Dalam catatan sejarah Aceh, berulang kali dipaparkan bagaimana setiap tamu diharuskan mandi di taman sari. Ini diceritakan misalnya oleh Cornelis de Houtman.

BEPPO BYRON PDF

Bustanus al-Salatin

Ayam rintik di pinggir hutan, Nampak dari tepi taman, Selamat membaca hamba ucapkan, Hamba sekadar beri pandangan. Manakala RO Winstedt mengkelaskan kitab ini sebagai sastera sejarah kerana pengkisahan sejarah yang terdapat di dalam kitab ini boleh dikatakan lengkap terutama dari segi sejarah kesultanan Melayu khususnya kerajaan Melayu Melaka dan Acheh tetapi sarjana tempatan memikirkan kitab ini lebih sesuai dikategorikan sebagai sastera ketatanegaraan atau sastera adab, yakni hasil penulisan yang boleh dijadikan petunjuk kepada raja-raja dan pemerintah dalam mentadbir negeri. Daripada sudut karya pula Kitab Bustan Al-Salatin ini terdiri daripada 7 bab tetapi bilangan fasalnya mempunyai pelbagai versi. Winstedt menyatakan ada 40 fasal manakala Raffles pula menyatakan hanya 60 fasal. Hal ini demikian berlaku kerana kitab yang lengkap tidak pernah ditemui sebaliknya cebisan kitab yang telah tercerai-cerai.

LALITHA PANCHARATNAM SANSKRIT PDF

Bustan, Mannheim

Mokazahn Delivery and Returns see our delivery rates and policies thinking of returning an item? Please enter the message. You may have already requested this item. Please enter your name. You may send this item to up to five recipients. Create lists, bibliographies and reviews: Add a review al-salaatin share your thoughts with other readers. Lists What are lists?

Related Articles